Kamis, 12 April 2012

KONSEP ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PERENIALISME DAN IMPLIKASINYA TERHADAP DISIPLIN

KONSEP ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PERENIALISME DAN IMPLIKASINYA TERHADAP DISIPLIN

Makalah ini Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada Mata Kuliah “FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM”



Disusun oleh :

IRSYADUL ALBAAB (210310186)


Jurusan : Tarbiyah
Prodi : PAI
TB – F

Dosen Pengampu :
DR. M. MIFTAHUL ULUM, M.Ag.

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PONOROGO
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kedudukan filsafat dalam pendidikan adalah suatu hal yang sangat asasi sekaligus strategis. Asasi, karena filsafat merupakan suatu dasar atau landasan dalam pembentukan ide atau asumsi-asumsi dasar dalam menentukan, persepsi dasar, prinsip dan tujuan asasi pendidikan. Stategis, karena dengan filsafat tersebut akan sangat ditentukan terhadap arah, warna sekaligus corak dari pendidikan yang akan dilaksanakan. Tanpa asas atau landasan filsafat, pendidikan akan rapuh, goyah dan tidak jelas arah dan tujuannya.
Ada banyak corak dan ragam filsafat yang dapat mendasari pendidikan dengan berbagai ide, gagasan dan kritiknya. Salah satu filsafat tersebut diantaranya adalah filsafat perenial atau perenialisme. Filsafat ini, walaupun secara umum pada awalnya tidak berkaitan dengan kontesk kedisiplinan secara khusus, namun kemudian pada tahap perkembangan selanjutnya, perenialisme banyak dan senantiasa dihubungkan dengan kedisiplinan.
Makalah ini, secara umum akan membahas tentang implikasi perenialsme terhadap disiplin. Dalam penyajian awal penulis mengemukakan pengertian konsep dasar dan pandangan umum perenialsme, dan selanjutnya adalah pendangan tentang disiplin yang menyoroti tentang tujuan dan prinsip kedisplinan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah Pengertian Perenialisme?
2. Siapakah Tokoh-Tokoh Perenialisme?
3. Apa Implikasi Aliran Filsafat Perenialisme Terhadap Disiplin?


1. PERENIALISME
Perenialisme berasal dari kata perenial, yang dalam oxford advanced learner`s dictionary of current english diartikan sebagai ”continuiting throughout the whole year” atau ”lasting for a very long time” – ”kekal atau abadi” dan dapat pula berarti pula ”terus tiada akhir” dengan demikian esensi kepercayaan filsafat perenialisme adalah berpegang pada nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat kekal abadi.
Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluur yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau, karena dengan mengembalikan keadaan masa lampau ini, kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang.

Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Aliran ini lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Keadaan sekarang adalah zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan Mortimer Adler.
Berhubung dengan itu dinilai sebagai zaman yang membutuhkan usaha untuk mengamankan lapangan moral, intelektual dan lingkungan sosial kultural yang lain. Perenialisme mengambil jalan regresif, yakni kembali kepada prinsip umum yang telah menjadi dasar tingkah laku dan perbuatan zaman Kuno dan Abad Pertengahan. Yakni kepercayaan-kepercayaan aksiomatis mengenai pengetahuan, realita dan nilai dari zaman-zaman tersebut.
a. Ontologi Perenialsime:
1). Asas Teleologi
Perenialisme dalam bidang ontologi berasas pada teleologi yakni memandang bahwa realita sebagai subtansi selalu cenderung bergerak atau berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teleologi). Bila dihubungkan dengan manusia, maka manusia itu setiap waktu adalah potensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Di samping asas teleologi, juga asas supernatural bahwa tujuan akhir bersifat supernatural, bahkan ia adalah Tuhan sendiri. Manusia tak mungkin menyadari asas teleologis itu tanpa iman dan dogma. Segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi, bila dihubungan dengan manusia maka manusia itu adalah potensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan, tidak jarang pula dimilikinya akal, perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu dan merupakan tujuan akhir.
2). Individual thing, essence, accident and substance
Perenialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah diatas. Penganut ajaran Aristatoles biasanya mengerti dari sesuatu dari yang kongkrit, yang khusus sebagai individual thing yang kita amati di mana-mana, seperti baru, rumput, dan aktivitas tertentu. Tetapi eksistensi realita tersebut tetap mengandung sifat asasi sebagai identitasnya, yakni essence (esensi) sebagai wujud realita itu. Dalam suatu individual thing terdapat suatu accident (hal-hal kebetulan), dan keseluruhan individual thing yang mempunyai esensi dan accident yang terbentuk atas unsur-unsur jasmaniah dan rohaniah dengan segala kepribadiannya inilah sebagai realita substance atau disebut juga hylomorphisme.
3). Asas supernatul
Paham perenialisme memandang bahwa tujuan akhir atau supremend dari substansi dunia adalah supernatul, bahkan ia Tuhan sendiri. Namun Tuhan sebagai sprit murni, sebagai aktualisasi murni hanya dapat dipahami melalui iaman (faith). Seluruh realita teleologis hanya dapat dipahami dengan iman dan biasanya bersifat dogmatis-doktriner.
b. Epistemologi Perenialisme:
Dalam bidang epistemologi, perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian antara pikir dengan benda-benda. Benda-benda yang dimaksudkan ialah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. Menurut perenialisme, filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisis empiris kebenarannya terbatas, relativ atau kebenaran probabiliti. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis, kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal, hakiki dan berjalan dengan hukum-hukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama, bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi.
c. Aksiologi Perenialisme:
Dalam bidang aksiologi, perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan prinsip-prisinsip supernatural, yakni menerima universal yang abadi. Khususnya dalam tingkah laku manusia, maka manusia sebagai subjek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya, di samping itu ada pula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Tindakan manusia yang baik adalah persesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. Kebaikan yang teringgi ialah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru kehidupan berpikir rasional.
Beberapa prinsip pendidikan perenialisme secara umum, yaitu:
1. Menghendaki pendidikan kembali kepada jiwa yang menguasai Abad Pertengahan, karena jiwa pada Abad Pertengahan telah merupakan jiwa yang menuntun manusia hingga dapat dimengerti adanya tata kehidupan yang telah dapat menemukan adanya prinsip-prinsip pertama yang mempunyai peranan sebagai dasar pegangan intelektual manusia dan yang dapat menjadi sarana untuk menemukan evidensi-evidensi diri sendiri (Imam Barnadib, 2002). Tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan hidup, yaitu untuk mencapai kebijakan dan kebajikan.
2. Rasio merupakan atribut manusia yang paling tinggi. Manusia harus menggunakannya untuk mengarahkan sifat bawaannya, sesuai dengan tujuan yang ditentukan. Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan yang kebenarannya pasti, dan abadi. Kurikulum diorganisir dan ditentukan terlebih dahulu oleh orang dewasa, dan ditujukan untuk melatih aktivitas akal, untuk mengembangkan akal. Yang dipentingkan dalam kurikulum adalah mata pelajaran general education yang meliputi bahasa, sejarah, matematika, IPA, filsafat dan seni dan 3 R’S (membaca, menulis, berhitung). Mata-mata pelajaran tersebut merupakan esensi dari general education.
3. Siawa seharusnya mempelajari karya-karya besar literature yang menyangkut sejarah, filsafat, seni, begitu juga dalam literature yang berhubungan dengan kehidupan social, terutama politik dan ekonomi. Dalam literature-literatur tersebut manusia sepanjang masa telah melahirkan hasil yang maha besar.

2. TOKOH-TOKOH PERENIALISME
1. Plato
Plato (427 – 347 SM) hidup pada zaman kebudayaan yang syarat denganketidakpastian, yaitu sedang berkembangnya filsafat sofisme. Ukuran kebenarandan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral, tidak ada kepastian dalam kebenaran,tergantung pada masing-masing individu. Bahaya perang dan kejahatan mengancam bangsa Athena. Siapa yang bisa memperoleh kebenaran secara retorik, maka dialah yang benar. Plato ingin membangun dan membina tata kehidupan dunia yang ideal, di atas tata kebudayaan yang tertib dan sejahtera,membina cara yang menuju kepada kebaikan.Dalam pandangan Plato, bahwa realitas yang hakiki itu tetap, tidak berubah. Realitas atau kenyataan itu telah ada pada diri manusia sejak dariasalnya yang berasal dari realitas yang hakiki. Dunia idea bersumber dari idemutlak, yaitu Tuhan. Kebenaran, pengetahuan dan nilai sudah ada sebelum manusia lahir, yang semuanya bersumber dari idea yang mutlak tadi. Manusia tidak menciptakan kebenaran, pengetahuan dan nilai moral, melainkan bagaimana menemukan semuanya itu. Dengan menggunakan akal dan rasio, semuanya itudapat ditemukan kembali oleh manusia.
2. Aristoteles
Aristoteles (384 – 322 SM), adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya yaitu idealisme. Cara berpikir Aristoteles berbeda dengan gurunya, Plato, yang menekankan berpikir rasional spekulatif. Aristoteles menggunakan cara berpikir rasional empiris realistis. Cara berpikir ini kemudian disebut filsafat Realisme.Meski hidup pada abad sebelum masehi, namun Aristoteles dinayatkansebagai pemikir abad pertengahan. Karya-karya Aristoteles merupakan dasar berpikir abad pertengahan yang melahirkan renaissance. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya beradadalam kondisi alam materi dan sosial. Sebagai makhluk rohani manusia sadar, ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal,manusia sempurna. Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat mencapainya. Ia menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral. Aristoteles juga menganggap kebahagiaan sebagai tujuandari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat, totalitas.Aspek-aspek jasmaniah, emosi, dan intelek sama dikembangkan, walaupun ia mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi ialah kehidupan berpikiran.

3. Thomas Aquinas
Tomas Aquinas mencoba mempertemukan suatu pertentangan yang muncul pada waktu itu, yaitu antara ajaran Kristen dengan ajaran filsafat Aristoteles. Menurutnya di antara keduanya sebenarnya tidak terdapat perbedaan, keduanya bisa berjalan secara beriringan dalam lapangannya masing-masing. Pandangannya tentang realitas, ia mengamukakan bahwa segala sesuatu yang ada, adanya itu karena diciptakan oleh Tuhan, dan tergantung kepada-Nya.Ia mempertahankan bahwa Tuhan bebas menciptakan dunia. Ia tidak setuju tentang teori emanasi dalam penciptaan alam sebagaimana dikemuakan oleh Neopaltonisme. Tomas Aquinas menekankan dua hal dalam pemikiran tentang realitas, yaitu :
a) dunia tidak diadakan semacam bahan dasar.
b) penciptaan tidak terbatas pada satu saja
Dalam masalah pengetahuan, Aquinas mengemukakan bahwa pengetahuan itu diperoleh sebagai persentuhan antara dunia luar dan / oleh akal budi, yang kemudian menjadi pengetahuan. Sumber pengetahuan selain bersumber dari akal budi, juga berasal dari wahyu Tuhan. Disinilah dia menggabungkan pemikiran filsafat idealisme dan realisme dengan diktrin-doktrin Gereja), sehingga filsafat Aqinas disebut filsafat tomisme.
Dalam konteks pendidikan, dia menyatakan bahwa pendidikan adalah suatu usaha dalam menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugas untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata.

3. IMPLIKASI ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PERENIALISME TERHADAP DISIPLIN

Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah mental disiplin sebagai teori dasar penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berfikir (mental dicipline) adalah salah satu kewajiban dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar (yang tertinggi). Karena itu teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berfikir.
Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya, telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau.
Dengan mengetahui tulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut, yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni:
1. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar.
2. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karya¬-karya tokoh tersebut untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.
Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau, maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli terse¬but dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri, dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat pereni¬alisme tersebut. 
Contoh gambaran tentang implikasi aliran filsafat perenialisme pendidikan sterhadap disiplin:


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Aliran Perenialisme dianggap sebagai “regresive road to culture” yakni jalan kembali ke kebudayaan masa lampau. Pandangan Perenialisme mengenai belajar dengan mendasarkan pada teori belajar, Mental disiplin sebagai teori dasar, rasionalitas dan asas kemerdekaan, belajar untuk berpikir serta belajar sebagai persiapan hidup. Perenialisme juga memiliki formula mengenai jenjang pendidikan beserta kurikulum, yaitu pendidikan dasar dan (sekolah) menengah, pendidikan tinggi dan adult education.
Perenialisme merupakan filsafat yang sangat tua usianya yang menekankan pada nilai keabadian dan mengarah apa tujuan kesempurnaan hidup. Nilai-nilai filsafat perennial bersifat abadi dan universal dapat diterapkan dalam berbagai kontek kehidupan, social, politik, budaya dan juga pendidikan. Dalam konteks pendidikan. Filsafat perenialisme sangat diperlukan untuk menjaga dan sebagai konservasi terhadap nilai-nilai luhur manusia dalam kehidupan.
Dalam kehidupan ini diperlukan suatu kebudayaan ideal yang teruji dan tangguh, sebagai basisi nilai kehidupan. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia dari kondisi yang carut marut secara moral dan budaya tersebut kearah terbentuknya dan terlestarikanya kebudayaan ideal. Sebagai sebuah idea tau gagasan filsafat tentunya perenialisme tidaklah sempurna dan tetap terdapat kekurangan, apalagi jika dikaitkan dengan konteks kehidupan yang sangat luas ini. Namun sebagai sebuah ide gagasan tentunya ihktiar sekecil apapun dalam menuju kebaikan dan kesejatian adalah suatu kemuliaan


DAFTAR PUSTAKA

`As`di Basuki, Ulum Miftahul, pengantar filsafat pendidikan (ponorogo: STAIN PO PRESS, 2010) hal. 17.

Zuhairi, filsafat pendidikan islam (PT Bumi Aksara: Jakarta 2008) hal. 28.
Uyoh sadullah, pengantar filsafat pendidikan (CV Alfabeta Bumi Aksara: Jakarta 2008) hal. 28
Imam Barnabid, filsafat pendidikan (Andi offset: Jogjakarta 1997) hal.60.
http://maragustamsiregar.wordpress.com/2011/03/28/aliran-filsafat-pendidikan-perenialisme/diakses pada tanggal 10 april 2012 jam 20:35.
http://sugiyarti-unindra-bio2a.blogspot.com/2008/06/definisi-perenialismeessensialismeprogr.html. diakses pada tanggal 11 april jam 4:00
http://www.scribd.com/doc/48345036/filsafat-perennialsime-dalam-pendidikan-makalah-tugas, diakses tanggal 7 april 2012, jam 9:12.
http://nurulsyaefitri-uin-pbin-2b.blogspot.com/2008/05/1-filsafat-perenialisme.html.diakses pada tanggal 7 april jam 21:35

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar